Kesehatan
Minahasa Utara Breaking News

Kasus DBD di Minahasa Tenggara Capai 277, Dinkes Soroti Wilayah Pertambangan Ratatotok

Kasus DBD di Minahasa Tenggara mencapai 277 hingga Juni 2026. Dinkes Mitra menyebut wilayah pertambangan Ratatotok menjadi lokasi dengan sebaran kasus terbanyak.

Dipublikasikan
26 Juni 2026 13:07 WITA
Diperbarui
26 Jun 2026 13:57
Waktu Baca
3 menit
Dibaca
4 views
kasus DBD di Minahasa Tenggara

RATAHANKasus DBD di Minahasa Tenggara mencapai 277 hingga Juni 2026. Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara melalui Dinas Kesehatan terus memperkuat penanganan untuk menekan penyebaran penyakit tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Mitra, dr. Tommy Soleman, mengatakan angka tersebut merupakan total kasus Demam Berdarah Dengue yang tercatat sepanjang tahun berjalan.

“Hingga Juni 2026, ada 277 kasus DBD yang kami catat,” ujar Tommy saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (19/6/2026).

Namun, Tommy menjelaskan bahwa tidak seluruh pasien yang masuk dalam data merupakan warga asli Minahasa Tenggara. Sebagian pasien berasal dari luar daerah yang beraktivitas di wilayah Mitra.

Ratatotok Jadi Wilayah dengan Kasus Terbanyak

Dinas Kesehatan Mitra memetakan sebaran kasus DBD di sejumlah wilayah. Hasilnya, kasus terbanyak terdeteksi di Kecamatan Ratatotok, khususnya kawasan pertambangan.

Menurut Tommy, tingginya aktivitas di kawasan tersebut turut memengaruhi sebaran kasus. Selain itu, banyak pekerja dari luar daerah beraktivitas di wilayah pertambangan Ratatotok.

“Tapi tidak semua warga dari Mitra, ada juga warga luar yang terinfeksi DBD saat kerja di sini,” kata Tommy.

Curah hujan tinggi juga diduga memperbesar risiko penyebaran DBD. Kondisi tersebut memicu munculnya genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti.

“Apalagi di wilayah pertambangan, sering kali terjadi endapan air yang akhirnya menjadi tempat favorit sarang nyamuk,” tutur Tommy.

Fogging Dilakukan, Stok Obat Jadi Kendala

Dinkes Mitra telah melakukan pengasapan atau fogging di sejumlah titik yang terdeteksi menjadi sarang nyamuk. Langkah ini dilakukan untuk menekan populasi nyamuk pembawa virus dengue.

Meski demikian, luasnya sebaran wilayah menjadi tantangan tersendiri bagi petugas kesehatan. Tommy menyebut pihaknya membutuhkan tambahan stok obat fogging agar penanganan bisa menjangkau lebih banyak lokasi.

“Penyemprotan juga sudah dilakukan, tapi kami kehabisan obat karena sebaran wilayahnya sangat luas,” tegasnya.

Karena itu, Dinkes Mitra terus mengupayakan penanganan secara bertahap. Pemerintah juga mendorong masyarakat ikut melakukan pencegahan dari lingkungan masing-masing.

Warga Diminta Cegah Gigitan Nyamuk

Tommy meminta masyarakat, terutama yang berada di wilayah pertambangan Ratatotok, meningkatkan kewaspadaan terhadap DBD. Pencegahan mandiri perlu dilakukan setiap hari untuk mengurangi risiko gigitan nyamuk.

Masyarakat diminta menggunakan lotion atau semprot anti nyamuk saat beristirahat. Selain itu, pekerja dan warga juga disarankan memakai pakaian tertutup ketika beraktivitas.

“Gunakan lotion atau semprot anti nyamuk saat tidur. Selain itu saat beraktivitas juga pakailah pakaian yang tertutup,” ungkap Tommy.

Selain perlindungan diri, warga juga perlu menjaga kebersihan lingkungan. Genangan air, wadah terbuka, dan barang bekas harus dibersihkan agar tidak menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Dinkes Mitra berharap masyarakat tidak menunggu fogging untuk melakukan pencegahan. Dengan gerakan bersama, penyebaran DBD di Minahasa Tenggara dapat ditekan lebih cepat.

Bagikan Artikel
Facebook X WhatsApp Link disalin
Topik terkait:
Refli Puasa
Profil Jurnalis

Refli Puasa

Editor

Tim redaksi manado.news yang menyajikan berita Manado dan Sulawesi Utara secara cepat, akurat, dan terpercaya.

Redaksi manado.news

Koreksi atau informasi tambahan?

Pembaca dapat menghubungi redaksi untuk memberikan koreksi, data tambahan, atau klarifikasi terkait berita ini.

Hubungi Redaksi