Opini
Opini Diterbitkan Redaksi Breaking News

Inggris Terlalu Cepat Bertahan, Messi Hukum Kesalahan Taktik Thomas Tuchel

Kekalahan Inggris dari Argentina lahir dari strategi pasif, pergantian pemain keliru, dan kendali Lionel Messi pada menit akhir.

Refli Puasa
Ditulis oleh
Founder & Developer
Profil Penulis
Dipublikasikan
17 Juli 2026 11:01 WITA
Diperbarui
17 Jul 2026 12:22
Waktu Baca
7 menit
Dibaca
18 views
Kekalahan Inggris dari Argentina

Kekalahan Inggris dari Argentina bukan sekadar kisah kebangkitan dramatis sang juara bertahan. Inggris membuka pintu kekalahan ketika memilih bertahan terlalu cepat setelah unggul.

Thomas Tuchel gagal menjaga keberanian timnya. Sebaliknya, Lionel Messi mengambil alih pertandingan saat tekanan mencapai titik tertinggi.

Argentina membalikkan keadaan dan menang 2-1 dalam semifinal Piala Dunia 2026 di Atlanta. Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez mencetak dua gol pada menit akhir.

Anthony Gordon sebelumnya membawa Inggris unggul pada menit ke-55. Namun, Inggris kemudian kehilangan kendali, wilayah permainan, dan keberanian menyerang.

Argentina menguasai 88 persen bola sejak gol Gordon hingga gol kemenangan Martinez. Angka tersebut menggambarkan dominasi wilayah yang hampir mutlak.

Karena itu, hasil pertandingan tidak lahir dari keberuntungan semata. Argentina membangun kemenangan melalui tekanan konsisten dan keputusan yang lebih berani.

Sementara itu, Inggris hanya berusaha mempertahankan keunggulan tipis. Strategi tersebut justru memberi Argentina waktu, ruang, dan keyakinan.

Babak Pertama Berjalan seperti Perang Taktik

Pertandingan sejak awal lebih menyerupai pertarungan fisik daripada pertunjukan sepak bola menyerang.

Kedua tim berebut bola kedua, melakukan pelanggaran, dan menutup ruang secara agresif. Akibatnya, permainan jarang mengalir dengan bersih.

Total nilai peluang gol atau expected goals kedua tim hanya mencapai 0,08 pada babak pertama.

Catatan tersebut menjadi angka terendah dalam babak pertama pertandingan gugur Piala Dunia sejak pencatatan 1966.

Situasi itu sebenarnya menguntungkan Inggris. Pasukan Tuchel terlihat nyaman ketika pertandingan berlangsung lambat, keras, dan terputus-putus.

Lini tengah Inggris menutup jalur umpan Argentina. Selain itu, pertahanan mereka menghalangi Messi menerima bola di area berbahaya.

Argentina kesulitan membangun kombinasi pendek seperti biasanya. Namun, mereka tidak kehilangan kesabaran atau meninggalkan struktur permainan.

Justru ketenangan itu menjadi pembeda. Argentina memahami bahwa pertandingan besar sering ditentukan setelah lawan mulai kehilangan energi.

Inggris menganggap kerapian bertahan sebagai kendali. Padahal, mereka hanya menahan Argentina tanpa benar-benar mengancam balik.

Perbedaan tersebut belum terlihat berbahaya pada babak pertama. Namun, situasi berubah setelah Inggris mencetak gol pembuka.

Gol Gordon Seharusnya Menjadi Titik Awal

Inggris akhirnya menciptakan momen terbaik pada menit ke-55.

Serangan berawal dari area pertahanan sebelum Morgan Rogers mengirim umpan silang akurat. Gordon kemudian menyelesaikan peluang dari jarak dekat.

Gol itu seharusnya memberi Inggris keberanian untuk terus menekan. Mereka memiliki momentum, organisasi, dan keunggulan psikologis.

Namun, Inggris memilih arah sebaliknya. Tim mundur lebih dalam dan menyerahkan bola kepada Argentina.

Alih-alih mencari gol kedua, Inggris mulai bermain untuk melindungi skor. Perubahan mental tersebut menentukan jalannya pertandingan.

Tuchel menambah pemain bertahan untuk memperkuat struktur. Akan tetapi, pergantian itu menghilangkan jalur serangan balik dan kemampuan menahan bola.

Setiap sapuan hanya mengembalikan penguasaan kepada Argentina. Karena itu, tekanan datang lagi dalam waktu singkat.

Inggris akhirnya bertahan tanpa jalan keluar. Mereka memiliki banyak pemain di belakang, tetapi tidak memiliki kendali nyata.

Dalam pertandingan sebesar semifinal, bertahan bukan masalah utama. Persoalannya muncul ketika tim berhenti menawarkan ancaman.

Argentina tidak lagi khawatir terhadap ruang di belakang pertahanannya. Mereka mengirim lebih banyak pemain menuju kotak penalti Inggris.

Kritik terhadap perubahan formasi Tuchel juga muncul setelah pertandingan. Pergeseran menuju lima pemain bertahan dinilai membuat Inggris semakin pasif.

Argentina Memproduksi Peluang tanpa Henti

Argentina tidak menunggu keajaiban. Mereka meningkatkan tempo dan membangun tekanan melalui berbagai cara.

Umpan silang, tendangan jarak jauh, sundulan, dan bola pantul terus menguji pertahanan Inggris.

Jordan Pickford melakukan beberapa penyelamatan penting. Bek Inggris juga memblokir tembakan dan dua kali terbantu tiang gawang.

Namun, setiap pertahanan memiliki batas. Inggris mungkin mampu menggagalkan satu peluang, tetapi tidak seluruh gelombang serangan.

Argentina terus memindahkan bola hingga menemukan celah. Mereka tidak bergantung pada satu pola atau satu pemain.

Penguasaan bola sebesar 88 persen selama fase akhir menunjukkan lebih dari sekadar statistik.

Angka tersebut membuktikan Inggris kehilangan kemampuan menentukan tempat pertandingan berlangsung.

Seluruh permainan bergeser ke wilayah pertahanan mereka. Argentina juga mengendalikan ritme, arah serangan, dan jumlah peluang.

Dalam situasi tersebut, gol penyeimbang hanya menunggu waktu.

Enzo Fernandez akhirnya mencetak gol pada menit ke-85 setelah menerima kreasi Messi. Gol tersebut meruntuhkan perlawanan Inggris.

Setelah skor imbang, Argentina tidak melambat. Sebaliknya, mereka melihat Inggris mulai kehilangan ketenangan.

Messi Mengubah Pertandingan pada Saat Terpenting

Lionel Messi tidak mendominasi seluruh pertandingan. Namun, ia mendominasi momen yang menentukan hasil.

Selama sebagian besar laga, Inggris membatasi ruang geraknya. Messi jarang memperoleh kesempatan menembak atau menggiring mendekati gawang.

Namun, pemain besar tidak selalu membutuhkan banyak sentuhan. Mereka hanya membutuhkan satu keputusan tepat pada waktu yang tepat.

Messi menciptakan gol penyeimbang melalui umpan kepada Fernandez. Selanjutnya, ia kembali menjadi kreator pada masa tambahan waktu.

Umpan silangnya menemukan Lautaro Martinez di antara dua pemain belakang Inggris.

Martinez memenangkan duel udara dan menanduk bola untuk memastikan kemenangan Argentina.

Messi mencatat dua assist dalam kebangkitan tersebut. Perannya mengantar Argentina menuju final Piala Dunia kedua secara beruntun.

Inilah karakter Messi dalam pertandingan turnamen. Ia dapat terlihat tenang selama beberapa periode, tetapi selalu membaca perubahan situasi.

Ketika Inggris semakin dalam, Messi memperoleh ruang untuk mengangkat kepala.

Saat pertahanan mulai lelah, ia menemukan celah yang sebelumnya tidak tersedia.

Kontribusinya bukan sekadar teknik. Messi juga memahami kapan harus mempercepat serangan dan kapan harus menahan bola.

Argentina mengikuti arah kaptennya. Mereka tidak panik, meskipun waktu terus berkurang.

Sebaliknya, Inggris mulai membuat keputusan berdasarkan ketakutan. Perbedaan mental tersebut akhirnya menentukan pemenang.

Pergantian Tuchel Justru Memperbesar Tekanan

Thomas Tuchel mungkin ingin memperkuat pertahanan. Namun, keputusannya menghasilkan efek yang berlawanan.

Tambahan bek tidak otomatis membuat tim lebih aman. Apalagi, Inggris kehilangan pemain yang mampu membawa bola keluar.

Tanpa ancaman serangan balik, Argentina bebas menaikkan garis pertahanan. Mereka juga mengirim gelandang lebih dekat ke kotak penalti.

Inggris kemudian menghadapi tekanan dengan jarak antarlini yang semakin sempit.

Harry Kane dan Jude Bellingham kesulitan memberi jalan keluar. Sementara itu, pemain pengganti tidak mengubah momentum pertandingan.

Tuchel sebenarnya memiliki pilihan untuk menambah kecepatan melalui pemain menyerang.

Namun, pendekatan konservatif menunjukkan ia lebih takut kehilangan keunggulan daripada berusaha memperbesarnya.

Keputusan tersebut mengingatkan pada kegagalan Inggris dalam turnamen sebelumnya.

Mereka sering unggul lebih dahulu, lalu kehilangan identitas ketika lawan meningkatkan tekanan.

Masalahnya bukan hanya formasi. Inggris gagal mempertahankan keyakinan terhadap cara bermain yang membawa mereka unggul.

Tim juara biasanya merespons keunggulan dengan mengendalikan bola atau mencari gol tambahan.

Inggris justru mengundang lawan mendekati gawang sendiri.

Melawan Argentina, keputusan itu hampir selalu membawa risiko besar.

Kekalahan Inggris Memberikan Pelajaran Lama

Kekalahan Inggris dari Argentina menunjukkan bahwa sepak bola bertahan membutuhkan lebih dari sekadar menumpuk pemain.

Sebuah tim tetap membutuhkan penguasaan, jalur keluar, dan ancaman serangan balik.

Tanpa ketiganya, pertahanan hanya berubah menjadi pengepungan.

Inggris sempat berada dalam posisi yang menguntungkan. Namun, mereka gagal mengubah keunggulan menjadi kendali.

Argentina sebaliknya menunjukkan karakter tim juara. Mereka tetap percaya kepada struktur permainan meskipun waktu semakin sedikit.

Kemenangan tersebut juga membuktikan bahwa Argentina tidak hanya mengandalkan semangat atau romantisme kebangkitan.

Mereka dapat menghancurkan lawan melalui tekanan wilayah, variasi serangan, dan ketepatan pengambilan keputusan.

Argentina kini melaju ke final menghadapi Spanyol. Sementara itu, Inggris harus menghadapi Prancis dalam perebutan tempat ketiga.

Bagi Tuchel, kekalahan ini meninggalkan pertanyaan besar mengenai keberanian taktiknya.

Ia berhasil membawa Inggris mendekati final. Namun, ia gagal menjaga timnya tetap bermain ketika kemenangan sudah terlihat.

Argentina memahami satu kebenaran sederhana dalam pertandingan gugur.

Selama peluit akhir belum berbunyi, mereka tidak pernah menganggap pertandingan selesai.

Inggris justru bertindak seolah kemenangan harus dijaga selama lebih dari 30 menit.

Pada akhirnya, rasa takut Inggris memberi Messi dan Argentina semua yang mereka butuhkan.

Informasi lain yang masih berkaitan tersedia dalam laporan Inggris vs Argentina: Lionel Messi Jadi Ancaman Utama Three Lions di Semifinal Piala Dunia.

Dalam isu terkait, baca juga laporan Argentina Terancam Sanksi FIFA usai Bentangkan Banner Malvinas.

Sementara itu, perkembangan lain dapat dilihat dalam laporan Perebutan Sepatu Emas Piala Dunia 2026 Memanas, Mbappe dan Messi Sama-Sama Cetak Delapan Gol.

Bagikan Artikel
Facebook X WhatsApp Link disalin
Refli Puasa
Tentang Penulis

Refli Puasa — Founder & Developer

Refli Hertanto Puasa adalah pendiri dan pengembang Manado.news yang bergabung di dunia jurnalistik sejak 2009. Ia memiliki minat pada fotografi, videografi dan traveling, dengan ke...

Redaksi manado.news

Koreksi atau informasi tambahan?

Pembaca dapat menghubungi redaksi untuk memberikan koreksi, data tambahan, atau klarifikasi terkait berita ini.

Hubungi Redaksi