Olahraga
Berita Redaksi Diterbitkan Redaksi Breaking News Headline

Argentina Terancam Sanksi FIFA usai Bentangkan Banner Malvinas

Kontroversi banner Malvinas muncul setelah Argentina menyingkirkan Inggris 2-1 pada semifinal Piala Dunia 2026 di Atlanta.

Refli Puasa
Ditulis oleh
Founder & Developer
Profil Penulis
Dipublikasikan
16 Juli 2026 19:12 WITA
Diperbarui
16 Jul 2026 20:29
Waktu Baca
4 menit
Dibaca
20 views
Kontroversi banner Malvinas

ATLANTAKontroversi banner Malvinas membayangi keberhasilan Argentina melaju ke final Piala Dunia 2026. Sejumlah pemain membentangkan pesan politik setelah mengalahkan Inggris 2-1.

Banner tersebut bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas”. Dalam bahasa Indonesia, kalimat itu berarti “Kepulauan Malvinas adalah milik Argentina”.

Para pemain memperlihatkan banner saat merayakan kemenangan bersama pendukung di Stadion Atlanta, Rabu, 15 Juli 2026. Aksi tersebut kemudian memicu kecaman dan sorotan terhadap aturan disiplin FIFA.

FIFA melarang tim menggunakan pertandingan untuk menyampaikan pesan politik. Karena itu, Asosiasi Sepak Bola Argentina berpotensi menerima tindakan disiplin atau denda.

Namun, FIFA belum mengumumkan keputusan resmi terkait insiden tersebut. Hingga Kamis, 16 Juli 2026, badan sepak bola dunia itu masih menghadapi desakan untuk menyelidiki kejadian.

Kemenangan atas Inggris memastikan Argentina melaju ke final menghadapi Spanyol. Tim juara bertahan itu bangkit setelah sempat tertinggal pada babak kedua.

Inggris membuka keunggulan pada menit ke-55 melalui Anthony Gordon. Namun, Enzo Fernandez menyamakan kedudukan pada menit ke-85.

Lautaro Martinez kemudian mencetak gol kemenangan pada menit 90+2. Lionel Messi berperan melalui dua assist dalam proses gol Argentina.

Kontroversi Banner Malvinas Berkaitan dengan Sengketa Lama

Pesan pada banner merujuk kepada sengketa kedaulatan Kepulauan Falkland atau Malvinas. Argentina dan Inggris telah lama mempertahankan klaim berbeda atas wilayah tersebut.

Kepulauan itu berada di Samudra Atlantik Selatan, sekitar 480 kilometer dari pesisir timur Argentina. Inggris mengelolanya sebagai Wilayah Seberang Laut Britania.

Sementara itu, Argentina terus mengklaim wilayah tersebut sebagai bagian dari kedaulatannya. Buenos Aires menyebut kepulauan itu dengan nama Islas Malvinas.

Perselisihan tersebut memicu perang selama 74 hari pada 1982. Konflik itu menewaskan 649 personel Argentina, 255 personel Inggris, dan tiga warga sipil kepulauan.

Karena latar belakang tersebut, kontroversi banner Malvinas memiliki dampak lebih luas daripada persaingan sepak bola biasa. Pertandingan Argentina melawan Inggris memang membawa beban sejarah dan politik.

Pemerintah Inggris kemudian meminta FIFA memeriksa tindakan para pemain Argentina. Pejabat Inggris menilai pesan politik tersebut tidak pantas muncul dalam turnamen sepak bola.

Di sisi lain, sejumlah tokoh Argentina kembali menegaskan klaim negara mereka atas Malvinas. Pernyataan tersebut semakin memperbesar perhatian terhadap perayaan pascapertandingan.

Media melaporkan banner berasal dari tribun pendukung sebelum sampai ke lapangan. Beberapa pemain kemudian memegangnya saat merayakan kemenangan.

Gelandang Argentina Leandro Paredes juga memberikan tanggapan ketika media menanyakan banner itu. Pernyataannya kembali menegaskan posisi Argentina mengenai Kepulauan Malvinas.

Argentina Pernah Terkena Denda karena Pesan Serupa

Insiden serupa pernah terjadi menjelang Piala Dunia 2014. Pemain Argentina saat itu membawa banner dengan pesan yang sama sebelum pertandingan persahabatan melawan Slovenia.

FIFA kemudian menjatuhkan denda 30.000 franc Swiss kepada Asosiasi Sepak Bola Argentina. Nilainya ketika itu setara sekitar 19.500 pound sterling.

Kasus terdahulu memperkuat dugaan bahwa FIFA dapat kembali menjatuhkan sanksi finansial. Meski demikian, keputusan tetap bergantung pada pemeriksaan dan proses disiplin.

Kemungkinan diskualifikasi Argentina dari final dinilai kecil. FIFA biasanya memberikan denda atau teguran untuk pelanggaran pesan politik tanpa dampak langsung terhadap hasil pertandingan.

Namun, kontroversi banner Malvinas dapat memperbesar tekanan terhadap Argentina menjelang final. Sorotan publik kini tidak hanya tertuju pada persiapan menghadapi Spanyol.

Pertandingan semifinal itu sendiri berlangsung keras dan penuh ketegangan. Kedua tim terlibat dalam tekel kuat, perselisihan, serta sejumlah insiden tanpa bola.

Pada awal pertandingan, Enzo Fernandez juga mendapat sorotan setelah melakukan kontak keras terhadap Elliot Anderson. Wasit tidak memberinya kartu kuning dalam kejadian tersebut.

Keputusan wasit kemudian meningkatkan frustrasi para pemain dan staf Inggris. Pertandingan mencatat banyak pelanggaran sejak babak pertama.

Ketegangan kembali muncul setelah peluit akhir. Jude Bellingham dan Valentin Barco terlibat perselisihan ketika Argentina mulai merayakan kemenangan.

Meski laga berakhir panas, Argentina tetap memastikan tempat di pertandingan puncak. Lionel Messi dan rekan-rekannya kini berpeluang mempertahankan gelar dunia.

FIFA selanjutnya perlu menentukan apakah perayaan Argentina melanggar aturan turnamen. Keputusan tersebut akan menjadi perhatian menjelang laga final Piala Dunia 2026.

Untuk konteks tambahan, simak laporan Inggris vs Argentina: Lionel Messi Jadi Ancaman Utama Three Lions di Semifinal Piala Dunia.

Sementara itu, perkembangan lain dapat dilihat dalam laporan Spanyol vs Prancis: Duel Lini Tengah dan Serangan Cepat Jadi Penentu Semifinal Piala Dunia.

Dalam isu terkait, baca juga laporan Perebutan Sepatu Emas Piala Dunia 2026 Memanas, Mbappe dan Messi Sama-Sama Cetak Delapan Gol.

Potensi pariwisata daerah juga tergambar dalam ulasan Ekuador Bungkam Jerman, Pantai Gading Cetak Sejarah di Hari ke-15 Piala Dunia 2026.

Informasi lain yang masih berkaitan tersedia dalam laporan Gestur X Anti-Rasisme FIFA Bisa Hentikan Laga di Piala Dunia 2026.

Bagikan Artikel
Facebook X WhatsApp Link disalin
Rekomendasi Redaksi

Berita Terkait

Dipilih otomatis berdasarkan topik, kategori, wilayah, tag, popularitas, dan kedekatan isi berita.

6 rekomendasi
Topik terkait:
Refli Puasa
Tentang Penulis

Refli Puasa — Founder & Developer

Refli Hertanto Puasa adalah pendiri dan pengembang Manado.news yang bergabung di dunia jurnalistik sejak 2009. Ia memiliki minat pada fotografi, videografi dan traveling, dengan ke...

Redaksi manado.news

Koreksi atau informasi tambahan?

Pembaca dapat menghubungi redaksi untuk memberikan koreksi, data tambahan, atau klarifikasi terkait berita ini.

Hubungi Redaksi