Olahraga
Berita Redaksi Diterbitkan Redaksi Breaking News Headline

Gestur X Anti-Rasisme FIFA Bisa Hentikan Laga di Piala Dunia 2026

Gestur X anti-rasisme FIFA memberi pemain cara resmi melaporkan pelecehan rasial dan dapat memicu penghentian hingga pembatalan pertandingan.

Refli Puasa
Ditulis oleh
Founder & Developer
Profil Penulis
Dipublikasikan
08 Juli 2026 20:46 WITA
Diperbarui
08 Jul 2026 22:50
Waktu Baca
4 menit
Dibaca
46 views
protokol anti-rasisme FIFA

FIFA menerapkan gestur X anti-rasisme FIFA di Piala Dunia 2026 untuk melindungi pemain dari pelecehan rasial. Pemain yang menjadi sasaran rasisme dapat menyilangkan kedua tangan di pergelangan untuk memberi sinyal langsung kepada wasit.

Sinyal tersebut bukan sekadar simbol protes. Gestur itu dapat memicu protokol tiga langkah FIFA yang memungkinkan pertandingan dihentikan, ditangguhkan, bahkan dibatalkan.

Kebijakan ini menjadi bagian dari gerakan Global Stand Against Racism. FIFA menyusun kerangka tersebut untuk memperkuat perlawanan terhadap rasisme di sepak bola dunia.

Sebanyak 211 asosiasi anggota FIFA menyetujui kerangka anti-rasisme itu pada 2024. Karena itu, protokol ini berlaku sebagai standar global dalam menangani pelecehan rasial di lapangan.

Pemain Bisa Beri Sinyal Langsung ke Wasit

Dalam aturan ini, pemain yang mengalami atau melihat pelecehan rasial dapat membuat tanda X. Pemain melakukannya dengan menyilangkan tangan di bagian pergelangan.

Setelah wasit melihat sinyal itu, pertandingan dapat langsung masuk tahap penanganan. Wasit juga bisa bertindak setelah menerima konfirmasi dari pemain atau ofisial.

Langkah ini memberi perlindungan secara real time kepada pemain. Dengan demikian, penanganan tidak lagi menunggu pertandingan selesai atau laporan setelah kejadian.

FIFA ingin membuat pemain merasa memiliki suara saat menghadapi rasisme. Selain itu, wasit mendapat dasar jelas untuk mengambil tindakan di lapangan.

Sistem ini sebelumnya telah diuji dalam turnamen FIFA. Saat itu, Presiden FIFA Gianni Infantino menyampaikan dukungan terhadap mekanisme tersebut.

Protokol Tiga Langkah FIFA Dimulai dari Penghentian Laga

Tahap pertama dalam protokol anti-rasisme FIFA adalah menghentikan pertandingan. Wasit dapat menghentikan laga setelah melihat gestur X atau menerima laporan.

Setelah permainan berhenti, pengumuman stadion akan disampaikan kepada penonton. Pengumuman itu menjelaskan alasan penghentian laga dan memberi peringatan keras.

Jika pelecehan terus terjadi setelah laga dilanjutkan, wasit dapat masuk ke tahap kedua. Pada tahap ini, pertandingan ditangguhkan sementara.

Para pemain kemudian diarahkan menuju ruang ganti. Selain itu, pengelola pertandingan kembali menyampaikan pengumuman resmi di stadion.

Pengumuman kedua menjelaskan konsekuensi jika tindakan rasis berlanjut. Dengan cara ini, FIFA memberi tekanan langsung kepada pelaku dan lingkungan stadion.

Rasisme Bisa Membuat Pertandingan Dibatalkan

Jika situasi tidak membaik setelah penangguhan, wasit dapat mengambil langkah terakhir. Pertandingan bisa dibatalkan sepenuhnya.

Keputusan pembatalan menjadi langkah paling berat dalam protokol tersebut. Namun, wasit harus berkonsultasi dengan ofisial terkait sebelum mengambil keputusan.

FIFA menempatkan opsi ini sebagai peringatan serius. Artinya, perilaku rasis bukan hanya mencoreng pertandingan, tetapi juga bisa menghentikan laga.

Dengan aturan ini, rasisme dapat berdampak langsung pada jalannya pertandingan. Karena itu, klub, tim, penonton, dan panitia harus menjaga suasana stadion tetap aman.

Protokol ini juga memperkuat posisi pemain sebagai pihak yang harus dilindungi. Mereka tidak perlu menanggung pelecehan rasial sambil menunggu proses disiplin setelah laga.

Global Stand Against Racism Punya Lima Pilar

Gestur X anti-rasisme FIFA menjadi bagian dari kerangka besar Global Stand Against Racism. Kerangka ini berdiri di atas lima pilar utama.

Pilar pertama mencakup aturan dan sanksi lebih tegas terhadap pelanggaran rasial. Semua asosiasi anggota didorong menerapkan standar hukuman yang kuat.

Pilar kedua menyangkut protokol aksi di lapangan. Protokol itu mencakup penghentian, penangguhan, hingga pembatalan pertandingan.

Pilar ketiga mendorong penuntutan pidana terhadap perilaku rasis di berbagai negara. FIFA ingin pelaku rasisme mendapat konsekuensi di luar sanksi olahraga.

Pilar keempat fokus pada pendidikan di sekolah dan pembinaan pemain muda. Langkah ini penting agar kesadaran anti-rasisme dibangun sejak awal.

Pilar kelima menghadirkan Players’ Voice Panel. Panel ini berisi 16 mantan pemain profesional dari berbagai benua untuk memberi masukan dan memantau perkembangan.

Melalui gestur X anti-rasisme FIFA, sepak bola mendapat mekanisme yang lebih kuat dalam melawan diskriminasi. Pada akhirnya, pesan FIFA jelas: rasisme tidak punya tempat di lapangan, stadion, maupun masyarakat.

Informasi lain yang masih berkaitan tersedia dalam laporan FIFA Kecam Pelecehan Rasis terhadap Kylian Mbappe oleh Senator Paraguay.

Dalam isu terkait, baca juga laporan Adidas Luncurkan Bola Trionda Final untuk Semifinal hingga Final Piala Dunia 2026.

Bagikan Artikel
Facebook X WhatsApp Link disalin
Refli Puasa
Tentang Penulis

Refli Puasa — Founder & Developer

Refli Hertanto Puasa adalah pendiri dan pengembang Manado.news yang bergabung di dunia jurnalistik sejak 2009. Ia memiliki minat pada fotografi, videografi dan traveling, dengan ke...

Redaksi manado.news

Koreksi atau informasi tambahan?

Pembaca dapat menghubungi redaksi untuk memberikan koreksi, data tambahan, atau klarifikasi terkait berita ini.

Hubungi Redaksi