Pemerintahan
Berita Redaksi Diterbitkan Redaksi Kotamobagu Breaking News Headline

Bahasa Mongondow Warnai Apel Pemkot Kotamobagu, ASN Diajak Menjaga Warisan Budaya

Penggunaan Bahasa Mongondow dalam apel pagi memperkuat komitmen Pemkot Kotamobagu melestarikan bahasa daerah dan mewariskannya kepada generasi muda.

Dipublikasikan
24 Juli 2026 18:51 WITA
Diperbarui
24 Jul 2026 22:13
Waktu Baca
4 menit
Dibaca
18 views
Bahasa Mongondow

KOTAMOBAGUBahasa Mongondow mewarnai seluruh rangkaian apel pagi Pemerintah Kota Kotamobagu, Jumat. Pemkot mengajak aparatur sipil negara membiasakan penggunaan bahasa daerah dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.

Asisten I Bidang Pemerintahan Setda Kotamobagu Sahaya S. Mokoginta menyampaikan seluruh amanat menggunakan Bahasa Mongondow. Langkah tersebut menjadi bentuk nyata pelestarian bahasa ibu di lingkungan pemerintahan.

Para peserta mengikuti apel dengan antusias dan menyimak setiap pesan secara saksama. Suasana berbeda itu juga menghadirkan kebanggaan terhadap identitas budaya masyarakat Bolaang Mongondow Raya.

Dalam amanatnya, Sahaya mengajak seluruh ASN mensyukuri kesehatan dan kesempatan menjalankan tugas. Menurutnya, aparatur harus melayani masyarakat dengan penuh tanggung jawab.

Selain itu, ia mengingatkan ASN agar menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dengan semangat. Aparatur juga perlu menjaga nilai budaya lokal dalam setiap aktivitas pemerintahan.

Penggunaan Bahasa Mongondow dalam apel tersebut tidak sekadar menghadirkan suasana berbeda. Pemerintah ingin menghidupkan kembali kebiasaan berbahasa daerah di ruang publik.

Sahaya menilai ASN memiliki peran strategis dalam upaya pelestarian budaya. Sebab, aparatur berinteraksi langsung dengan masyarakat melalui pelayanan, pendidikan, dan berbagai kegiatan pemerintahan.

Karena itu, penggunaan bahasa daerah harus berkembang menjadi kebiasaan bersama. Langkah tersebut dapat dimulai dari kantor, sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat.

Bahasa Mongondow dan Tarian Dana-Dana Raih Pengakuan

Sahaya turut menyampaikan kebanggaan atas keberhasilan Pemerintah Kota Kotamobagu memperjuangkan pengakuan budaya daerah. Pemerintah pusat telah mengakui Bahasa Mongondow dan Tarian Dana-Dana sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia.

Wali Kota Kotamobagu Wenny Gaib bersama Wakil Wali Kota Rendy V. Mangkat mendukung perjuangan tersebut. Pengakuan nasional itu menjadi pencapaian penting bagi masyarakat dan pemerintah daerah.

“Alhamdulillah, pemerintah pusat telah menetapkan Tarian Dana-Dana dan Bahasa Mongondow sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia,” ujar Sahaya dalam Bahasa Mongondow.

Menurutnya, pengakuan tersebut harus membangkitkan rasa bangga sekaligus tanggung jawab bersama. Masyarakat tidak boleh membiarkan warisan budaya kehilangan penutur dan ruang penggunaannya.

Bahasa daerah akan tetap hidup apabila masyarakat menggunakannya secara aktif. Sebaliknya, bahasa dapat terancam apabila generasi muda jarang mendengar dan mempraktikkannya.

Oleh sebab itu, Sahaya meminta ASN menjadi contoh dalam penggunaan Bahasa Mongondow. Aparatur dapat memulainya melalui percakapan ringan tanpa mengganggu pelayanan resmi kepada masyarakat.

Lingkungan sekolah juga memiliki peran penting dalam memperkenalkan bahasa daerah kepada anak-anak. Sementara itu, keluarga menjadi ruang utama untuk mewariskan kosakata dan cara berkomunikasi.

Masyarakat dapat menggunakan bahasa ibu dalam percakapan sehari-hari, kegiatan adat, seni, dan aktivitas sosial. Dengan demikian, pelestarian tidak berhenti pada seremoni atau pengakuan administratif.

“Mulai hari ini mari kita biasakan berbicara menggunakan Bahasa Mongondow,” pesan Sahaya.

Ia berharap kebiasaan tersebut menjaga bahasa daerah tetap hidup dan berkembang. Generasi berikutnya juga dapat mengenal identitas budaya melalui bahasa leluhur mereka.

Apel Berakhir dengan Sapaan Bahasa Daerah

Nuansa keakraban semakin terasa menjelang berakhirnya apel pagi. Komandan apel menyampaikan laporan penutupan kegiatan menggunakan Bahasa Mongondow.

“Apel aidon nopalut,” kata komandan apel yang berarti apel telah selesai.

Sahaya kemudian menjawab dengan kata “Pobuidon”, yang bermakna bubar atau kembalilah. Percakapan singkat tersebut langsung mengundang senyum dan tawa hangat peserta.

Momen itu menunjukkan bahwa Bahasa Mongondow dapat digunakan secara alami dalam agenda pemerintahan. Penggunaannya juga menciptakan kedekatan tanpa mengurangi ketertiban kegiatan resmi.

Sebelum apel berakhir, Sahaya memberikan apresiasi kepada ASN yang hadir tepat waktu. Ia menilai kedisiplinan menjadi bagian penting dari tanggung jawab seorang aparatur.

Pemkot Kotamobagu berharap penggunaan bahasa daerah terus meluas dalam ruang publik. Namun, penerapannya tetap perlu menyesuaikan konteks pelayanan dan kebutuhan masyarakat.

Agenda pemerintahan dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan kembali kosakata lokal. Selain itu, kegiatan tersebut dapat meningkatkan kepercayaan diri masyarakat dalam menggunakan bahasa ibu.

Pengakuan nasional memberi peluang besar untuk memperkuat pelestarian budaya di Kotamobagu. Pemerintah dapat mengembangkan program pendidikan, dokumentasi, festival, dan publikasi berbahasa daerah.

Kolaborasi dengan tokoh adat, budayawan, guru, dan generasi muda juga sangat penting. Mereka dapat menyusun materi pembelajaran yang mudah dipahami serta sesuai perkembangan zaman.

Sementara itu, teknologi digital dapat membantu memperluas penggunaan Bahasa Mongondow. Konten video, kamus digital, media sosial, dan bahan ajar daring dapat menjangkau generasi muda.

Penggunaan bahasa daerah dalam apel pagi menjadi simbol komitmen Pemkot Kotamobagu menjaga identitas budaya. Langkah tersebut juga mendorong masyarakat menggunakan bahasa lokal dengan bangga.

Melalui kebiasaan yang konsisten, Bahasa Mongondow diharapkan terus hidup di tengah perubahan zaman. Warisan itu kemudian dapat berkembang dan berpindah kepada generasi mendatang.

Bagikan Artikel
Facebook X WhatsApp Link disalin
Abdul Agus Heydemans
Tentang Penulis

Abdul Agus Heydemans — Reporter

Abdu Agus Heydemans adalah jurnalis biro Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara. Ia aktif meliput isu pemerintahan daerah, politik lokal, hukum, pembangunan, dan peristiw...

Redaksi manado.news

Koreksi atau informasi tambahan?

Pembaca dapat menghubungi redaksi untuk memberikan koreksi, data tambahan, atau klarifikasi terkait berita ini.

Hubungi Redaksi